KALTARA

Di Tengah Pandemi, Mesin Ekonomi Kaltara Mulai Bergerak Kembali

RESPONS KALTARA : Trino Junaidi, Kepala Bidang Neraca Wilayah dan Analisis Statistik BPS Provinsi Kaltara dan Kepala Bagian Sarana dan Perekonomian Biro Perekonomian Setprov Kaltara, Nurdiana saat menjadi narasumber Respons Kaltara edisi ke-100, Rabu (11/11) siang.

TANJUNG SELOR – Pada edisi ke-100-nya, Respons Kaltara mengangkat tema Mendongkrak Ekonomi Kaltara di Masa Pandemi. Respons Kaltara mengulik jawaban dua narasumber berkompeten, Trino Junaidi, Kepala Bidang Neraca Wilayah dan Analisis Statistik BPS Provinsi Kaltara dan Kepala Bagian Sarana dan Perekonomian Biro Perekonomian Setprov Kaltara, Nurdiana.

Trino Junaidi mengulas lebih banyak makro ekonomi dari awal. Kondisi ekonomi yang terpuruk akibat pandemi tidak hanya dialami oleh Kaltara. Melihat pergerakan ekonomi di provinsi lain, kontraksi ekonomi minus 1,46 yang dialami Kaltara sedikit lebih baik dan tidak sedalam yang dialami provinsi lain di Indonesia, termasuk di Pulau Kalimantan.

“Secara Q-to-Q atau dari dari triwulan II ke triwulan III 2020, Kaltara bisa tumbuh 2,99 persen. Secara Y-on-Y atau Triwulan III 2019 dibandingkan triwulan III 2020 ini mengalami minus -1,46 persen. Tetapi di triwulan II kemarin, minusnya sampai 3 persen. Artinya, sudah ada recovery pada saat masuk triwulan III,” kata Trino, Rabu (11/11).

“Beberapa provinsi di Tanah Air lebih dalam lagi minusnya. Di Pulau Kalimantan saja, kalau dilihat di 5 provinsi, kisaran 4 persen. Kaltim saja minus 4,46 persen. Kaltara paling dangkal minusnya,” tambahnya.

Beberapa lapangan usaha ada yang terkena imbas pandemi, ada pula yang tidak. Lapangan usaha pertanian dalam arti luas rata-rata survive atau mampu bertahan dan hampir tidak terimbas. Antara lain ketahanan pangan, holtikultura, kehutanan, perkebunan, dan perikanan. Sektor pertambangan salah satu sektor yang terpukul. Disebabkan ekspor hasil pertambangan yang menurun. Demikian juga industri pengolahan juga mengalami penurunan nilai ekspor.

“Di kategori akomodasi cukup terdampak. Kita tahu wisatawan yang masuk di Kaltara tertahan. Selain akomodasi, penyediaan makan minum juga turun. Juga terdampak adalah sektor transportasi. Penerbangan belum jalan normal, sampai sekarang masih ada pembatasan pesawat,” ujarnya.

Trino menggarisbawahi, jurang kontraksi ekonomi pada triwulan II 2020 di Kaltara disebabkan dampak Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) oleh pemerintah di sejumlah daerah. Kemudian, di triwulan III 2020 ekonomi Kaltara mulai tumbuh dampak relaksasi aktivitas masyarakat. “Dahulu di triwulan II hanya bisa take away. Sekarang di triwulan III, orang sudah mulai bisa makan di tempat. Itu contoh mikronya,” urainya.

Kontraksi yang tidak terlalu dalam, hanya minus 1,46 dan pertumbuhan Q-to-Q 2,99 persen dinilai Trino tidak terlepas dari upaya pemerintah, Pemprov, dan Pemkab/Pemkot di Kaltara yang memperhatikan alur penanganan kesehatan yang sudah semakin terpola. “Tidak grasak-grusuk, sudah terpola. Kalau kita keluar rumah sudah pakai masker, itu terpola. Kemudian bantuan sosial pun sudah semakin deras mengalir dengan lancar. Tentu kelancaran ini harus diantisipasi dengan aparatur di bawahnya yang juga siap dengan adminsitrasi. Jangan sampai dikucurkan cepat, deras, namun sewenang-wenang,” sebutnya.

Kedua, masyarakat Kaltara dinilai sudah saling membatasi penularan. “Tanpa diberikan aba-aba dan instruksi sebagian besar masyarakat sudah sadar,” sebutnya.

Ketiga, seluruh komponen di Kaltara menyadari untuk menggerakkan kembali mesin-mesin ekonominya sehingga mulai memberi dampak pertumbuhan ekonomi di triwulan III. “Tips dari kami, kalau ekonomi kita ingin lebih bagus ke depan, pemerintah daerah, masyarakat, dan pelaku usaha mesti segerakan beradaptasi. Adaptasi cara berkomuniasi, adaptasi belajar, adaptasi berbisnis,” ujarnya.

“Ini kesempatan. Tentu ada sentuhan teknologi. Yang sudah memiliki modal pengetahuan dan informasi ayo menjadi enterpreneur., Kalau kita genjot industri pengolahan, maka produksi akan melimpah. Karena penduduk kita masih 700 ribu, maka potensi ekspor pun tinggi. ekspor tidak harus ke luar negeri, tetapi ekspor ke daerah lain seperti Kaltim, Jateng, atau Jatim,” timpalnya.

Ia menilai kaum milenial di Kaltara juga perlu berinovasi memberi sentuhan pergerakan ekonomi daerah. Perlu juga bereksperimen dan meningkatkan literasi keuangan. “Pengetahuan tentang keuangan harus cermat. Kemudian juga investasikan uang anda dengan baik. Kalau itu semua dilakukan, paling tidak secara jangka pendek di triwulan IV ini ekonomi Kaltara sudah bisa positif,” ulasnya.

Dan yang perlu digarisbawahi pula kata Trino, jika sektor pertambangan dikeluarkan dari PDRB Kaltara, maka secara riil pertumbuhan ekonomi Kaltara positif 0,76 persen. Sebab sejauh ini share PDRB Kaltara didominasi sektor pertambangan kurang lebih 80 persen. Sisanya perdagangan dan jasa lainnya 20 persen. “Kita lihat pengadaan listrik air dan gas itu tumbuh 19 persen loh. Ini kan perlu kita perkuat lagi. Kemudian jasa-jasa lainnya, luar biasa kaltara sudah mulai mengarah ke sifatnya modernisasi. Dengan tumbuhnya jasa-jasa, itu mengindikasi Kaltara sudah mulai beralih dari sifatnya sekunder ke tersier, dari primer ke sekunder,” ungkapnya.

“Jasa kesehatan dan jasa sosial lainnya, dan konstruksi juga meningkat. Kita sudah hampir mendekati angka positif, dari minus 1,46. Artinya selangkah lagi kita positif kembali,” tambahnya.

Kepala Bagian Sarana dan Perekonomian Biro Perekonomian Setprov Kaltara, Nurdiana menambahkan, tumbuhnya ekonomi Kaltara di triwulan III dibandingkan triwulan II 2020 juga tidak terlepas dari berbagai program pemulihan ekonomi yang dilakukan pemerintah (pusat), Pemprov maupun kabupaten/kota.

“Pemerintah telah menyalurkan bantuan langsung tunai, termasuk untuk refocusing untuk penanganan pandemi, penanganan bidang ekonomi, kesehatan, dan jaring pengaman sosial,” tutupnya.(humas)

Leave a Comment