KOLOM OPINI

DIPUJI TIDAK TERBANG, DIFITNAH TIDAK TUMBANG: Irianto Paling Bijak, Relawan Iraw Paling Sopan

Analisis Serangan Cyber Hoax  Pilgub Kaltara 2020 di Media Sosial
Semakin mendekati hari pencoblosan Pilgub Kaltara, linimasa media sosial semakin sesak postingan hoaks, fitnah dan kebencian.

Para relawan dan pendukung sepertinya tidak punya etika dalam menuliskan dan menuangkan  rangkain kata mereka di medsos.

Perbuatan fitnah dan kebohongan yang sebenarnya dilarang keras oleh agama dan budaya seolah tak berarti oleh syahwat politik sesaat.

Penulis  menilai penomena ini bukan persoalan baru dalam kontestasi demokrasi di negeri ini.

Kelakuan buruk para pendukung kandidat ini sudah menjadi persoalan sejak Pilpres 2009 dan Pilkada 2010, atau  sejak Facebook mulai booming sebagai platform media sosial di Indonesia.

Namun semakin kesini dan semakin hari, bukan semakin meredah dan teratasi tetapi malah semakin brutal dan tidak terkontrol.

Kita masih ingat bagaimana linimasa medsos di pilpres 2019 tahun lalu, sempat menjadi arena pertempuran hoaks, fitnah dan kebencian para pasukan ciber (Cybertroops)  pendukung capres.

Memang situasi Pilgub Kaltara berbeda dengan pilpres kemarin, skalanya pun kecil, tidak sepanas dan sekacau Pilpres. Namun, fenomena itu sedang terjadi saat ini. Sedikit banyak akan menunjukan permasalahan psikologis, sosial dan keamanan.

Maka itu diperlukan kesadaran dan kepedulian semua pihak untuk menjaga suasana pilkada Kaltara tetap kondusif, terutama aktivitas para pendukung pasangan calon di media sosial.

Para kandidat juga harus pro aktif dalam mengedukasi pendukungnya, agar lebih santun dan dewasa dalam bermedsos. Mereka harus diajarkan dan dilatih   beragumentasi secara cerdas dan  membangun kritik yang  debatabel dan databel.

Jika upaya edukasi tidak dilakukan atau tidak merubah prilaku mereka, maka melaporkan penyebar fitnah, kebencian dan SARA ke pihak berwajib adalah solusi yang paling tepat dan efektif untuk membuat efek jera dan meredam susana panas di Medsos.

Irianto Tetap Cool

Banyak para netizen, khususnya pada pendukung kandidat  belum bisa membedakan antara kritik dan fitnah. Mereka gagap mengartikan  kebebasan dan hak berpendapat. Kanalisasi verbal dan literal tidak diimbangi literasi media, literasi etika dan literasi hukum.

Kritik sesuatu yang melekat dalam demokrasi. Tak ada kritik, tak ada demokrasi.Siapapun tidak bisa melarang dan menghalangi orang untuk mengkritik. Apalagi terkait kebijakan pembangunan.

Namun, kritik itu sebuah pernyataan yang harus disampaikan secara terukur dengan  data, fakta dan  solusi didalamnya. Bukan hanya katanya dan rasa-rasanya.

Sebaliknya, fitnah itu sesuatu yang bersifat dusta, manipulasi data dan bertentangan dengan fakta. Seringkali menggunakan bahasa jalanan dan terkesan cari-cari kesalahan, menjatuhkan dan merusak harga diri seseorang.

Substansi dan makna kritik dan fitnah inilah yang harus difahami dan bisa dibedakan oleh pendukung kandidat. Agar postingan di media sosial bernilai positif dan dapat dipertanggungjawabkan.

Menurut penulis, sejauh  ini kandidat yang paling banyak mendapat serangan fitnah dan hoaks   adalah calon petahana Irianto Lambrie.

Sebagai seorang petahana, yang sukses memimpin Kaltara dengan segudang  prestasi dan bukti, tentu banyak pujian dan dukungan yang diberikan masyarakat kepada Irianto Lambrie.

Di sisi lain, tidak sedikit juga orang yang iri dan dengki atas keberhasilan tersebut. Para pembenci atau biasa disebut Haters akan selalu ada, dan berusaha menyerang dengan fitnah dan senantiasa memutarbalikan fakta.

Harus difahami bahwa tidak ada satupun pemimpin di dunia ini yang bisa memuaskan semua pihak, yang bisa mengajak semua orang berjuang bersama dirinya. Akan selalu ada orang-orang yang tidak puas dan meninggalkan dirinya. Tapi, apakah  ketidakpuasaan itu harus  dielaborasi  menjadi fitnah dan kebencian yang dihalalkan?

Gambaran Itulah yang memperlihatkan situasi  Irianto Lambrie hari ini. Ketika orang orang yang tidak suka padanya, bersemangat menciptakan fitnah, hoaks dan kebencian. Sebaik apapun yang dilakukan Irianto, akan selalu menjadi kebencian bagi mereka.

Sebagai seorang pemimpin yang bijak,  relijius dan educated . Irianto terlihat tenang dan tidak panik ketika dihujani fitnah dan cacian. Ia  tetap cool dan bersabar.

“Dipuji tidak terbang, dicaci tidak tumbang” begitulah karakter Irianto Lambrie. Hanya fokus bekerja,   fokus melayani masyarakat dan membangun Kalimantan Utara.

Jumlah para haters ini sebenarnya tidaklah banyak. Hanya karena mereka  agresif dan menjadi buzzer yang  masif, maka terkesan bergema  membuat gaduh di medsos. Pengaruhnya tidak besar. Masyarakat juga semakin cerdas, bisa memilah yang mana hoaks, fitnah dan yang mana data dan fakta.

Para relawan Iraw juga cukup baik dalam menyajikan data dan fakta.  Mereka  cukup bijak dalam berargumen dengan pendukung lawan. Narasi yang mereka bangun terlihat santun dan rendah hati dalam mengklarifikasi tuduhan. Sikap sportif ini  membuat masyarakat semakin simpati kepada Iraw.

Contoh yang paling kena bagi para haters, ketika mereka membangun narasi bahwa Irianto Lambrie menzolimi wakilnya. Begitu diminta bukti yang dimaksud menzolimi, semua haters terdiam, tidak ada bukti yang dimaksud. Mereka baru menyadari selama ini hanya pegang “katanya” alias curhatan subjektif orang yang kecewa.  Mereka kurang membaca peraturan perundang-undang yang mengatur  kewenangan dan tanggung jawab kepala daerah,

Kasus lain,  baru baru ini soal fitnah akun FB Henry Fangiran yang menuding bahwa Tim Iraw menggeser penumpang pesawat Susi Air tujuan Krayan. Ternyata, tidak butuh waktu yang lama tudingan atau fitnah itu langsung ditepis dan diklarifikasi oleh maskapai Susi Air sendiri.

Peristiwa – peristiwa  itu seolah menegaskan bahwa kritik para haters hanya berpijak pada polarisasi kebencian, dan wawasan sempit . Mereka tidak melihat persoalan pemerintahan pada porsi kewenangannya dan aturan yang menyertainya.

Narasi kebencian yang mereka bangun justru berbalik dan malah menghadirkan banyak apresiasi publik kepada pasangan Iraw. Langkah-langkah yang dilakukan relawan Iraw dianggap menunjukkan kelasnya sebagai pendukung kebaikan yang sesungguhnya.

Oleh : Bustomy

Leave a Comment