KOLOM OPINI

Analisis: Membaca Peluang Kemenangan IRAW

Hasil survei yang dirilis oleh LSI (Lembaga Survei Indonesia) pada  tanggal 28 September 2020 lalu menyebutkan  bahwa pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Kaltara Irianto Lambrie dan Irwan Sabri (Iraw) menduduki peringkat pertama dalam ukuran peluang keterpilihan (elektabilitas) pada Pemilihan Gubernur Kalimantan Utara (Pilgub Kaltara) 2020.

Tingkat keterpilihan Iraw sebesar 34,6 persen, unggul jauh dari pasangan Udin Hianggio-Undunsyah sebesar 18,3 persen dan Zainal Arifin Paliwang-Yansen Tipa Padan 11,8 persen.

Survei ini dilakukan pada bulan September 2020, menggunakan 800 responden, dengan sample di seluruh kabupaten/kota di Kalimantan Utara. Metode yang digunakan adalah multistage random sampling. Wawancara dilakukan secara tatap muka dengan menggunakan kuesioner. Margin of error survei ini 3,5 persen.

Hasil survei itu tentu akan menjadi pijakan baik peserta pilkada, pemilih dan pengamat dalam melihat peta politik dan preferensi pemilih Pilgub Kaltara, 9 Desember 2020 mendatang.

Bagi pasangan calon dan timsesnya, survei ini tentu menjadi motivasi dan koreksi untuk bekerja lebih keras dan efektif.

Hasil survei LSI juga memotret beberapa kekuatan yang membuat pasangan Irianto dan Iwan Sabri memperoleh dukungan tertinggi.

Pertama Irianto Lambrie paling dikenal, dengan popularitas di atas 90,2 persen, sedangkan kompetitornya Udin Hianggio-Undunsyah 74,8 persen dan Zainal Arifin Paliwang-Yansen Tipa baru dikenal 43,6 persen.

Kedua, tingkat kepuasan masyarakat atas kinerja Irianto Lambrie dalam menjalankan tugasnya sebagai Gubernur Provinsi Kalimantan Utara ternyata cukup tinggi sebesar 66,7 persen.

Ketiga, Irianto Lambrie-Irwan Sabri dinilai paling mampu menyelesaikan persoalan ekonomi di Kaltara, yakni 30,9 persen. Unggul jauh dari Udin Hianggio-Undunsyah 14,2 persen dan Zainal Arifin Paliwang-Yansen Tipa Padan sebesar 7 persen.

Hasil survei tersebut diprediksi tidak akan jauh berbeda dengan hasil Pilgub 9 Desember nanti. Meski masa kampanye masih berjalan dan tiap paslon masih bisa terus meningkatkan elektabilitasnya.

Tetapi dengan membaca kritik  dari Tim Ziyap  atas hasil survei   yang diumumkan LSI tanggal 28 September lalu, yang  hasilnya dianggap tidak berbeda jauh dengan hasil survei yang dilakukan  LSI sebelumnya pada bulan Juli lalu atas permintaan Zainal Arifin Paliwang, seolah menegaskan bahwa dua kali survei yang dilakukan oleh  LSI menunjukan bahwa elektabilitas Iraw memang  paling tinggi dan unggul jauh dari paslon yang lain.

Ada keyakinan dan harapan besar dari pendukung Iraw bahwa    hasil Pilgub 9 Desember nanti  tidak akan berbeda dengan dua kali hasil survei LSI.

Memang, jika membaca kalkulasi persentase survei tersebut, masih ada 35,4 persen  yang belum menentukan pilihan. Suara kelompok inilah (floating) yang akan diperebutkan oleh ketiga pasangan calon dalam masa dua bulan ini.

Kontes  Kapasitas 

Bustomy, salah satu pengamat politik di Kalimantan Utara, menilai bahwa Pilkada   Kaltara 2020 adalah arena pertarungan para pemimpin daerah yang berpengalaman. Penilaian itu berdasarkan latar belakang tiap calon.

Dari 6 peserta atau 3 pasangan calon yang bersaing dalam Pilgub Kaltara 2020, hanya 2 yang belum punya pengalaman sebagai pemimpin daerah. Mereka adalah Zainal Arifin Paliwang (Polri), Iwan Sabri (anggota DPRD Nunukan).

” Iwan Sabrie memang bukan kepala daerah. Tapi dia anggota DPRD Nunukan 2 periode dan sebelumnya wakil ketua DPRD Nunukan. Setidaknya, dia berpengalaman berhubungan dengan pemerintahan,” ujar pria memiliki gelar magister  ilmu komunikasi.

Pengalaman menjadi kepala daerah juga bukan jaminan seseorang bisa bekerja optimal saat menjadi gubernur dan wakil gubernur.

“Kalau dia berpengalaman, tetapi kinerjanya buruk saat memimpin kabupaten kota, ya percuma,” tuturnya.

Memang, Yansen TP dan Undunsyah pernah menjadi bupati 2 periode, tetapi perlu diingat dalam kontestasi Pilgub kali ini mereka hanya menjadi calon wakil gubernur. Posisi itu, tidak cukup kuat dan strategis untuk terlibat dalam kewenangan dan penentuan kebijakan.

” Yang mau dikelola ini lembaga pemerintahan dengan segala aturan dan ketentuan yang harus ditaati. Bukan partai politik dan ormas  yang bisa dipengaruhi oleh kekuatan sifatnya non operasional dan non prosedural.

Sedangkan Udian Hianggio yang sempat menjadi walikota Tarakan 1 periode dan wakil gubernur kaltara, dinilainya belum mampu mengimbangi kualitas dan kapasitas kepemimpinan Irianto Lambrie. “Kaltara masih membutuhkan pemimpin yang enerjik dan fresh, dengan segala kapasitas komunikasi, networking, manajerial dan leadership” tutur Bustomy.

Kalau mau jujur, calon gubernur yang berpengalaman itu hanya Irianto Lambrie. Ia pernah menjadi penjabat Gubernur Kaltara selama 2 tahun, ditambah 5 tahun sebagai gubernur. Paling tidak, Irianto sangat mengetahui dan memahami langkah langkah  strategis  pemantapan dan percepatan pembangunan di Kaltara.

” Apalagi Irianto Lambrie selama ini berhasil meletakan dasar-dasar pembangunan dan pengelolaan tata pemerintahan yang baik, bersih dan efektif di Kaltara,” tegasnya.

Leave a Comment