KALTARA

Harga Udang Anjlok Serentak, BI Kaltara Sebut Akibat Permintaan Jepang Turun

TANJUNG SELOR, lintasbenuan.com – Tren harga udang di pasar global saat ini sedang merosot. Dampaknya, harga udang di pasar domestik Tanah Air juga tengah melorot. Tidak terkecuali di Kaltara, sebagai salah satu sentra produksi udang di Tanah Air.
Rerata daerah produksi udang di Tanah Air mengalami gonjangan harga. Harga udang di pasar domestik maupun pasar global sedang anjlok. Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Provinsi Kaltara menyatakan, jikalau penurunan serentak terjadi, bisa dipastikan karena faktor turunnya permintaan udang di luar negeri, khususnya di Jepang.
“Jepang bisa jadi menerapkan sertifikat pengelolaan lingkungan lestari seperti yang terjadi pada komoditas kelapa sawit. Sehingga kelapa sawit tidak bisa masuk ke Eropa, begitu juga dengan udang,” tutur Dhika Arya Kepala Unit Pengembangan Ekonomi KPw Bank Indonesia Kaltara, Selasa (18/2/2020).
Beberapa negara di jazirah Arab yang mulai memproduksi udang, juga disinyalir menjadi salah satu faktor. Selain itu, harga udang asal jazirah Arab relatif kompetitif. Sehingga peluang masuknya udang dari jazirah Arab ke Jepang terbuka lebar. “Arab yang dulunya jadi konsumen sekarang jadi penghasil udang. Mereka juga punya visi tidak lagi bergantung minyak kan. Jikalau perekonomian mereka tidak tumbuh, berapa pun harga jual udangnya tetap dilepas,” ujarnya.
Jepang sebagai negara tujuan ekspor udang asal Indonesia juga disinyalir tengah melakukan diversifikasi pasar. Hal itu tentu mempengaruhi permintaan udang dalam negeri hingga menyebabkan harga di Tanah Air termasuk Kaltara menjadi anjlok. “Selain karena mungkin ada outbreak-nya juga dengan Coronavirus,” tuturnya.
Sementara itu, harapan besar pembudidaya untuk meningkatkan produksi didukung dengan harga jual yang tinggi bak jauh panggang dari api.
Portal Jala Tech bahkan menulis empat provinsi di Pulau Jawa yakni Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur fluktuasinya sangat bervariasi sepanjang tahun 2019. Penurunan harga tertinggi terjadi ketika memasuki bulan April hingga harga terendahnya pada bulan Mei.
“Harga cenderung membaik setelah bulan Juli sampai Agustus. Tetapi anjlok lagi pada bulan Oktober sampai November,” tulis Jala Tech dalam artikelnya edisi 16 Januari 2020. Fluktuasi yang sama juga terjadi di Bali. Namun di Lampung, sempat naik di bulan Agustus hingga Oktober, namun anjlok ketika memasuki bulan November.
Fluktuasi yang cukup dinamis sepanjang tahun 2019 membuat petambak sangat bergantung trend harga untuk menentukan panen. Anjloknya harga udang dari tahun 2019 hingga awal tahun 2020 ini menurut Jala Tech disebabkan beberapa faktor mulai dari faktor inputan (benur, obat-obatan, peralatan, pakan); harga komoditas lain yang berhubungan: adanya teknologi yang meningkatkan budidaya hingga 1000 persen sehingga menurunkan harga; kondisi cuaca; serta permintaan pasar domestik maupun mancanegara.
Jala Tech memperkirakan, memasuki awal tahun 2020 ini harga udang bisa saja positif. Namun akan kembali anjlok pada bulan Maret.“Harga terendahnya biasanya terjadi saat memasuki bulan Ramadan hingga lebaran. Tahun ini akan berteparan pada bulan Mei,” tulisnya.
Terpisah, guna mencari solusi menurunnya harga udang, Pemerintah Provinsi melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kaltara berencana akan menggelar Focus Group Discussion (FGD) pada Kamis (20/2).
Melalui FGD ini, Kepala DKP Kaltara H Amir Bakry mengatakan, nantinya akan melibatkan pengusaha importir yang bergerak di sektor perikanan guna mencari solusi jatuhnya harga udang. Tidak hanya itu, unsur terkait seperti Badan Pusat Statistik, dan Bank Indonesia Perwakilan Kaltara juga dilibatkan.
“Penurunannya murni pasar jadi sulit jika meminta solusi jangka pendek (minta dinaikan harganya) yang ada perlu memikirkan solusi jangka panjangnya soalnya kejadian akan terus berulang,”kata Kepala DKP Kaltara Amir Bakry saat dikonfirmasi, Selasa (18/2). (lb-2)

Leave a Comment