KALTARA

Ada Oknum Aparat Keamanan di KTT Diduga Ikut Terlibat

Tersangka Kasus Dugaan Gratifikasi Ganti Rugi Kerusakan Menunggu Sidang

TANJUNG SELOR, lintasbenuanta.com – Penyidikan kasus dugaan gratifikasi atas ganti rugi kerusakan dermaga pelabuhan di Kecamatan Sesayap, Kabupaten Tana Tidung (KTT) masih berlanjut. Dari hasil pemeriksaan terhadap tersangka M, ada pengakuan yang mengarah pada kemungkinan tersangka baru. Tersangka yang merupakan oknum pejabat eselon IV di lingkup Pemkab Tana Tidung itu, mengaku adanya keterlitan oknum ASN lainnya, dan juga oknum aparat di Tana Tidung.
Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasi Pidsus) Kejari Bulungan Andi Aulia Rahman mengatakan, dari keterangan penyidik yang dilanjutkan ke kejaksaan, dari kasus ini masih ada kemungkinan akan ada tersangka lain, selain M. “Kalau soal keterlibatan orang ketiga, pasti ada. Menurut pengakuan tersangka, ada dari oknum ASN dan ada juga dari aparat keamanan. Hanya saja, terkait keterlibatan oknum aparat ini, memang ada bukti atau hanya mengamankan sebagai menjalankan tugas. Nanti kita lihat dalam proses persidangan,” ungkap Dia.
Kasus dugaan gratifikasi ini bermula saat M yang saat itu menjabat sebagai Kepala Bidang Perhubungan mengaku, sebagai otoritas yang berhak dalam proses ganti rugi atas kerusakan pelabuhan yang tertabrak oleh sebuah kapal asal Kabupaten Malinau. Padahal sesuai aturan, ganti rugi yang dibayarkan oleh pihak pemilik kapal, dalam hal ini perusahaan bidang tambang batu bara itu, seharusnya melalui kementerian. Karena kegiatan pembangunan pelabuhan tersebut, merupakan proyek yang sumber angggaran dari APBN langsung dari Kementerian Perhubungan.
Terkait dalam kasus itu, pihak penyidik sudah menyita barang bukti uang senilai Rp225 juta sebagai pembayaran ganti rugi atas kerusakan tersebut. Sebelum adanya pembayaran atas kerusakan itu, pelaku meminta ganti rugi itu sebesar Rp1 miliar. Tapi setelah adanya negosiasi dan diambil kesepatakan kedua belah pihak, maka disetujui ganti rugi sebesar Rp 300 juta.
“Tapi yang diamankan oleh penyidik hanya Rp225 juta. Kalau berdasarkan berkas pidananya, ada empat orang yang juga menerima uang ganti rugi itu. Tapi nanti akan kita lihat pada proses persidangan,” kata Andi.
Sementara itu, setelah berkas dan barang bukti diserahkan sebelumnya, tersangka perkara kasus gratifikasi ganti rugi akibat kerusakan di salah pelabuhan yang ada di KT, akhirnya menyusul dilimpahkan ke pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Samarinda. Pelimpahan kasus itu, lantaran untuk wilayah Kaltara khususnya Kabupaten Bulungan belum ada pengadilan Tipikor untuk menyelesaikan kasus-kasus tindak korupsi.
“Kami dari JPU (Jaksa Penuntut Umum) dan tim pengawal, akan melimpahkan kasus itu ke pengadilan Tipikor Samarinda. Karena pada 2 April lalu, kita sudah lakukan penyerahan berkasnya. Baru hari ini, tersangkanya kita bawa ke Samarinda,” ujar Andi Aulia Rahman.
Di Samarinda, lanjut dia, tersangka akan dititipkan di Rumah Tahanan (Rutan) Klas II A Sempaja, Samarinda. Untuk jadwal persidangan, nantinya menyesuaikan dengan jadwal yang ditentukan oleh pihak Pengadilan Tipikor Samarinda. “Untuk para saksi, nanti kita yang akan mendatangkan sendiri ke Samarinda. Untuk selanjutnya, kita masih menunggu penetapan jadwa sidang dari pihak pengadilan,” pungkasnya. (*)

Leave a Comment