KALTARA

Gubernur Desak Pembangunan Tower SUTT Segera Direalisasikan

ilustrasi

ilustrasi

TANJUNG SELOR, lintasbenuanta – Gubernur Kaltara, H Irianto Lambrie mengatakan salah satu percepatan yang diharapkan bisa segera diwujudkan dalam mengatasi krisis listrik di Kaltara, adalah pembangunan tapak tower Saluran Udara Tingkat Tinggi (SUTT) sebanyak 205 tower dari Tanjung Redeb ke Tanjung Selor, 311 tower dari Tanjung Selor ke Tideng Pale, dan 102 tower dari Tideng Pale ke Malinau.

Menurutnya, lewat jaringan transmisi PLN melalui tower SUTT diharapkan dapat meningkatkan rasio elektrifikasi di Kalimantan Utara. Tentu, lanjut Irianto PT PLN juga diminta untuk mendukung dengan penyediaan peningkatan sumber energi listrik.

 “Sesuai perintah Bu Rini (Menteri BUMN), bulan September atau Oktober 2017 PLTMG di Gunung Seriang itu sudah mesti diselesaikan. Mereka (PT PLN Persero) minta fasilitasi pembebasan lahan tambahan seluas 2 hektar untuk itu dan kami akan bantu fasilitasi,” tuturnya.

Demikian disampaikan Irianto saat berjumpa dan berdiskusi bersama Direktur Utama (Dirut) PT PLN Persero Sofyan Basir di acara pameran infrastruktur terbesar di Indonesia, yaitu Indonesia Infrastructure Week 2016 di Jakarta beberapa waktu lalu.

“Saya mengundang beliau (Dirut PT PLN Persero) untuk berkunjung ke Kaltara dan sekaligus meminta percepatan penyelesaian krisis listrik di Kaltara, termasuk pengembalian pengelolaan listrik Kota Tarakan dari PT PLN Tarakan kepada PT PLN Persero,”ujar Irianto

Selain itu, Irianto juga berharap agar rencana pembangunan power plan yang telah masuk ke dalam proyek kelistrikan nasional 35 ribu Mega Watt bisa segera diwujudkan PT PLN. Ketiga power plan tersebut akan didirikan di tiga daerah masing-masing di Bulungan dengan kapasitas 15 MW, di Nunukan kapasitas 10 MW, dan di Malinau kapasitas 6 MW. Praktis total daya yang bisa dihasilkan sebanyak 31 MW.

 “Sesuai informasi dari Pak Tohari (General Manager PT PLN Wilayah Kerja Kaltim-Kaltara) menyebutkan rencana pembangunan akan dilaksanakan mulai awal tahun depan (2017).  Seluruh proyek PLTMG PT PLN Persero sudah bisa dimulai dan ditargetkan selesai di akhir tahun. Disebutkan PLTMG lebih ramah lingkungan. Begitu pula kebutuhan gas bakal mudah dipenuhi,”ujarnya.

Irianto mengatakan jika pembangunan jaringan dan pembangkit bisa dilaksanakan sinergi dan tepat waktu maka rasio elektrifikasi di Kalimantan Utara bisa meningkat dimana saat ini baru mencapai 66,5 persen. Secara global daya listrik yang tersedia di provinsi bungsu saat ini baru mencapai 62,29 megawatt dengan beban puncak 68,52 megawatt.

Berdasarkan data dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Kaltara, lanjut Irianto disebutkan sebanyak 179 desa belum mendapat aliran listrik. Dari jumlah 480 desa yang tersebar di empat kabupaten dan satu kota, 164 diantaranya merupakan desa berlistrik namun non PLN. Sedang yang dialiri listrik PLN jumlahnya baru mencapai 173 desa.

“Desa yang dialiri listrik PLN paling banyak di Bulungan. Sedang desa yang paling banyak mengandalkan listrik non PLN masih dominan di Kabupaten Nunukan. Biasanya warga yang belum teraliri listrik menggunakan generator set atau genset, dan solar cell yang bertenaga matahari/surya,” ujarnya. (ant/hms)

Leave a Comment