KALTARA

Menteri ESDM Tinjau Pembangunan Pabrik Semikokal dan PLTU

Menteri ESDM Ignasius Jonan, didampingi Gubernur Kaltara H Irianto Lambrie saat meninjau perusahaan PT MEK di Desa Apung, Tanjung Selor.

Resmikan Program Jargas RT di Tarakan dan BBM Satu Harga di Malinau

TANJUNG SELOR, lintasbenuanta.com – Didampingi langsung oleh Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara), Dr H Irianto Lambrie, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI Ignasius Jonan melakukan serangkaian kunjungan kerja di Kaltara pada Jumat (15/02) kemarin.
Menteri Jonan tiba di Bandara Tanjung Harapan Tanjung Selor sekira pukul 09.45 Wita, dengan menumpang pesawat private jet jenis Gulfstream 550. Turut mendampingi dari Jakarta, Dirjen Minerba Bambang Gatot, Direktur Pembinaan Gatrik Indra Iswahyudi, Dirut Pertamina Nicke Widyawati, CEO PT Pesona Khatulistiwa Nusantara (PKN) Lim Gunawan Haryanto, serta Managing Director Harry Tanoto.
Setibanya di Bandara, kedatangan Menteri Jonan disambut dengan upacara adat. Selanjutnya didampingi Gubernur, Menteri ESDM dan rombongan melakukan tinjauan ke perusahaan PT Megah Energi Katulistiwa (MEK) di lokasi tambang batu bara PT PKN di Desa Apung, Kecamatan Tanjung Selor.
Di perusahaan yang merupakan bagian atau anak usaha dari PT Energi Nusa Mandiri (ENM) ini, Menteri Jonan ingin melihat secara langsung perkembangan konstruksi pabrik pengolahan semikokas yang merupakan salah satu investasi besar di Kaltara.
Dalam kesempatan itu, melalui perwakilan dari pihak perusahaan, dipaparkan soal rencana pembangunan technopark to facilitate coal-base atau kawasan industri berbasis tambang batubara. Di mana di lokasi itu dibangun beberapa pabrik hilirisasi tambang melalui beberapa anak usahanya. Seperti PLTU oleh PT SAS, semikokas, coke gas untuk pembangkit listrik, dan tar/MFO yang didapatkan dalam 1 siklus proses produksi, oleh PT MEK, juga pabrik coal upgrading oleh PT ZCG.
Khusus untuk pabrik semi kokas oleh PT MEK, secara khusus dibeberkan, oleh Direkturnya, Rayendra Pradipta, MEK merupakan industri pionir yang menghasilkan 3 produk sekaligus. Yaitu semikokas, coke gas untuk pembangkit listrik, dan tar/MFO. Dengan teknologi Vertical Retort Carbonizer, MEK mampu menghasilkan 600,000 ton semikokas per tahun dengan bahan baku berjumlah 1,000,000 ton batubara, serta hasil samping berupa tar sebanyak 50,000 ton per tahun dan coke gas yang dapat digunakan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Gas sebesar 30 MW. “Semikokas sendiri adalah batubara yang telah diolah yang digunakan pada industri pembuatan nikel, baja dan besi,” jelasnya.
Selain merupakan industri pionir dan baru, kehadiran PT MEK yang ditargetkan mulai produksi Juli 2019 mendatang, disebut juga dapat memberikan dampak di berbagai aspek. Seperti penyerapan tenaga kerja, multiplier effect bagi masyarakat sekitar, pembangunan infrastruktur, serta transfer pengetahuan dan teknologi.
Sementara itu dalam sambutannya, Gubernur menyampaikan, Pemprov sangat mendukung pembangunan pabrik hilirisasi tambang yang dilakukan oleh PT ENM melalui beberapa anak usahanya di Kaltara. “Kami juga mengapresiasi kepada perusahaan yang bersedia berinvestasi di Kaltara ini. Di samping berdampak pada pertumbuhan ekonomi, dengan penyerapan tenaga kerja, dari listrik yang dihasilkan juga sangat bermanfaat untuk masyarakat. Termasuk pada investasi,” ujar Irianto.
Dukungan, lanjutnya, diberikan sesuai dengan kewenangan pemerintah provinsi. Terutama dalam hal rencana pembangunan PLTU lagi. Menurutnya, perlu disinkronkan dengan pihak-pihak terkait lainnya, utamanya dengan PT PLN, selaku BUMN yang mengurusi masalah listrik. “Tadi oleh Pak Menteri kita diminta untuk menyurat terkait kebutuhan listrik untuk Kaltara berapa. Nanti akan segera kita buat. Alhamdulillah tadi Pak Menteri sudah menjanjikan akan menyetujui berapa permintaannya, dan untuk dimasukkan dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga LIstrik (RUPTL) 2020,” imbuhnya.
Sore hari, kunjungan dilanjutkan di Tarakan. Disini, Gubernur menghadiri peresmian Jaringan Gas Bumi Rumah Tangga Kota Tarakan dan BBM Satu Harga Kabupaten Malinau oleh Menteri ESDM di Lapangan Sepakbola Kelurahan Kampung VI, Kota Tarakan. Dijelaskan Irianto, program jaringan gas rumah tangga ini, sudah direalisasikan sejak 2016 hingga 2018. Sementara untuk program BBM Satu Harga, khusus yang diresmikan hari ini, adalah SPBU ke-7 dari 8 usulan SPBU BBM Satu Harga di Kaltara, atau yang ke-115 di Indonesia. “Atas nama masyarakat Kaltara, juga jajaran Pemprov Kaltara, saya mengapresiasi kerja keras dan bantuan Menteri ESDM dan jajarannya, serta pihak PT Pertamina (Persero) sehingga dua program ini dapat terwujud di Kaltara,” ungkap Gubernur.
Adapun SPBU BBM Satu Harga yang diresmikan kali ini, berada di Desa Long Apung, Kabupaten Malinau. “Dengan adanya BBM Satu Harga ini, maka harga premium dari Rp 35 ribu per liter menjadi Rp 6.450 per liter, dan solar menjadi Rp 5.150 dari Rp 35 ribu per liter,” urai Irianto.
Secara nasional, program ini sudah dimulai sejak 2017. Dimana menurut catatan Kementerian ESDM, pada 2017 terdata sebanyak 54 SPBU BBM Satu Harga beroperasi. Sedangkan di 2018, 70 SPBU, dan tahun ini ditargetkan 36 SPBU lagi beroperasi. Lalu di 2020, ditargetkan 160 SPBU beroperasi. “Untuk wilayah Kalimantan sendiri, terdata ada 35 titik SPBU BBM Satu Harga. Dimana, 27 diantaranya telah beroperasi, dan 8 dalam proses. Di Kaltara khususnya, SPBU BBM Satu Harga ini berada di 3 kabupaten, yakni Nunukan 4 SPBU, Bulungan 2 SPBU, dan Malinau 2 SPBU,” beber Gubernur.
Lebih jauh, untuk program jaringan gas rumah tangga, diketahui bahwa ini adalah paket pekerjaan ke-7 Direktorat Jenderal (Ditjen) Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM dengan sumber gas dari Medco-PEP Aset 5. Proyek ini diawasi oleh PT Petrotechindo Utama yang dilaksanakan oleh KSO PT Cipta Sarana Nusantara dan PT Yuan Sejati. Nomor kontrak pekerjaannya, 04700.PK/Cons/PPK/Gen-PK7/VIII/2018. Tanggal kontrak pekerjaan, 13 Agustus 2018 hingga 31 Desember 2018 dengan masa pemeliharaan 12 bulan.
Proyek jaringan gas bumi ini, menggunakan 3 RS. Yakni RS 1 di Posyandu Lansia, Jalan Gunung Kelua, Kampung VI. RS 2 di Perpustakaan, Jalan Rambutan, Kampung IV, dan RS 3 di Kantor Kelurahan Mamburungan, Jalan Sei Sembakung. Untuk realisasinya, wilayah yang disasar adalah Kecamatan Tarakan Timur dan Tarakan Tengah. Untuk Tarakan Timur, di Kelurahan Kampung VI terdata ada 1.328 pelanggan. Di Kampung IV 1.295 pelanggan, Mamburungan 1.101 pelanggan, dan Mamburungan Timur 281 pelanggan. Sementara untuk Tarakan Tengah, di perumahan khusus ada 87 pelanggan, Rusunawa 196 pelanggan, dan penetrasi 407 pelanggan. “Jadi, untuk tahun ini ada tambahan pengguna jaringan gas rumah tangga di Tarakan sebanyak 4.695 SR,” jelas Gubernur.
Sementara itu, Menteri ESDM Ignatius Jonan mengatakan, program jaringan gas bumi untuk rumah tangga dan BBM Satu Harga direalisasikan dengan tujuan utama, menyediakan kehidupan masyarakat Indonesia yang lebih baik. “Dari itu, setiap komponen pemerintah harus kompak. Atas dari itu, saya minta kepada setiap kepala daerah, agar program ini dimanfaatkan maksimal,” ujar Ignatius.
Ignatius juga mengimbau kepada pemerintah daerah untuk mengajukan penambahan realisasi program, apabila dinilai masih membutuhkan. “Khususnya program BBM Satu Harga, apabila masih kurang, silakan ajukan. Bahkan, kalau perlu Gubernur mengajukan surat penambahan yang disampaikan kepada Komisi VII DPR RI untuk dibahas bersama dengan Kementerian ESDM, setelah sebelumnya disampaikan kepada para kepala daerah terkait,” papar Ignatius.
Menteri ESDM secara khusus juga mengimbau kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malinau, untuk mengawasi agar pelaksanaan program BBM Satu Harga berjalan dengan baik. “Program ini tujuan khususnya, adalah keadilan sosial bagi masyarakat Indonesia, utamanya di perbatasan Kaltara. Dan, dari hari ke hari, Pertamina juga menunjukkan dukungan yang positif atas program ini. Jadi, awasi dengan baik, agar pelaksanaannya maksimal,” urai Ignatius menutup.(humas)

Leave a Comment