BULUNGAN KRIMINAL

Bawa 2 Ton Solar, Seorang Wanita Diamankan Polisi

Barang bukti solar yang diamankan polisi.

Barang bukti solar yang diamankan polisi.

TANJUNG SELOR, lintasbenuanta.com – Setelah sebelumnya dari Polda Kaltara, kini giliran jajaran Satreskrim Polres Bulungan yang berhasil mengamankan pelaku pengangkutan Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi ilegal. Sebanyak 2 ton BBM jenis solar diamankan bersama satu orang pemiliknya pada Rabu (30/05) lalu.
Kapolres Bulungan AKBP Muhammad Fachry melalui Kanit Tipidter Satreskrim Polres Bulungan Ipda Handry Dwi A mengatatakan, pemilik BBM tersebut berinisial TN (48). Wanita ini diketahui merupakan warga Desa Tanah Kuning, Kecamatan Tanjung Palas Timur.
“Ada dugaan, BBM itu diperjualbelikan secara illegal. Jadi bisa kita kenakan tindak pidana di bidang minyak dan gas bumi,” kata Handry, Jumat (1/6). Ia membeberkan, pengungkapan kasus ini bermula ketika polisi yang melakukan tugas pengintaian terhadap pelaku penyalahgunaan BBM atau pengetap. Kemudian dilihat sebuah kendaraan roda empat merek Daihatsu Gran Max berwarna hitam.
Kendaraan tersebut, lanjutnya sedang terparkir di pinggir Jalan Jelarai Raya, tepatnya persimpangan jalan depan kantor Bupati Bulungan dalam kondisi baknya berisi muatan BBM bersubsidi jenis solar sebanyak 100 jeriken ukuran 20 liter atau sekira 2 ton BBM jenis solar.
“Ketika ditanya sama petugas, yang bersangkutan mengaku tidak memiliki izin untuk mendistribusikan BBM bersubsidi,” katanya. Dari keterangan pelaku, BBM bersubsidi tersebut ia dapatkan dari penjual solar eceran di seputaran Tanjung Selor. Meski menjalin bisnis dengan para pengecer tersebut, dirinya tidak mengetahui nama-namanya.
“Karena kami menduga illegal, pelaku bersama barang bukti kita bawa ke Polres Bulungan untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut,” urainya. Barang bukti yang sudah diamankan, berupa satu unit mobil pikap Grand Max warna hitam dan BBM jenis solar sekira 2 ton, yang ditaruh dalam puluhan jeriken.
Masih menurut pengakuan pelaku, BBM jenis solar yang dibeli dari pengecer atau pengetap akan dijual lagi kepada para nelayan di daerah Tanah Kuning dan sekitarnya. “Tersangka akan dikenakan Pasal 55 Undang-Undang RI Nomor 22 tahun 2001, tentang Minyak dan Gas Bumi,” tandasnya. (*)

Leave a Comment