KALTARA

Gas 3 Kg Langka, Warga Perbatasan Beralih Gunakan LPG Malaysia

JADI PILIHAN - Deretan LPG Malaysia yang masih tetap di perjual belikan di Pulau Sebatik, akibat LPG Indonesia kerap mengalami kelangkaan.

JADI PILIHAN – Deretan LPG Malaysia yang masih tetap di perjual belikan di Pulau Sebatik, akibat LPG Indonesia kerap mengalami kelangkaan.

TANJUNG SELOR, lintasbenuanta.com – Kelangkaan Liquefied Petroleum Gas (LPG) ukuran 3 Kilogram (Kg) asal Indonesia tidak hanya kerap terjadi di daerah-daerah perkotaan wilayah Kaltara. Tetapi, gas yang disubsidi oleh pemerintah itu juga kerap mengalami kelangkaan di daerah-daerah perbatasan, seperti di Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan.
Suplay yang di datangkan oleh para agen LPG (baca: elpiji) di Pulau tersebut, terkadang hanya sekali dalam sebulannya. Sedangkan kuota LPG Indonesia di Pulau yang berbatasan dengan Malaysia itu tidak mencukupi kebutuhan masyarakat. “Daerah perbatasan itu harus ada perhatian khusus. Kalapun mereka tetap menggunakan LPG Malaysia, itu pasti mereka juga punya alasan. Apalagi kan LPG Indonesia kerap alami kelangkaan,”ujar Norhayati Andris, salah satu DPRD Kaltara.
Kelangkaan LPG yang hingga saat ini masih dialami oleh masyarakat, kata dia seharusnya dipikirkan oleh pemerintah dan juga pihak Pertamina. Sebab, LPG merupakan salah satu kebutuhan masyarakat yang dipakai setiap harinya. Terlebih lagi, kelangkaan gas LPG ini bukan yang pertama kalinya terjadi namun yang kesekian kalinya. Dengan kondisi itu kata dia, keberadaan gas LPG asal Malaysia tetap menjadi pilihan warga, terutama untuk warga yang berada di daerah perbatasan.
“Jika itu langka, kita harapkan ada solusinya. Karena ini, tidak hanya terjadi kali ini saja. Khusus warga di perbatasan, juga harus ada perhatian khusus. Ketika mereka tetap gunakan LPG Malaysia, kita tidak bisa langsung semena-mena menyalahkan mereka. Karena, mereka tidak ada pilihan lain ketika LPG Indonesia langka lagi,” imbuh dia.
Sementara itu, anggota Komisi I DPRD Kaltara, Andi Zakaria megungkapkan, adanya larangan barang-barang asal negara Malaysia untuk masuk ke wilayah Sebatik cukup membuat warga di perbatasan resah. Terutama untuk LPG Malaysia yang hingga saat ini masih tetap digunakan oleh warga karena menjadi kebutuhan masyarakat. Sehingga, kata dia, kebijakan larangan adanya LPG Malaysia masuk ke Sebatik cukup merugikan bagi warga di daerah perbatasan itu.
“Kita tidak bisa melarang tabung gas asal Malaysia untuk masuk ke wilayah Sebatik. Tapi kemudian para PNS dan aparat lainnya yang ada di sana masih menggunakan tabung gas asal Malaysia juga, karena memang tidak ada pilihan. Kita harus realistis dengan kondisi perbatasan, jangan sampai ada kebijakan melarang semua produk-produk Malaysia masuk ke Sebatik dan akhirnya perputaran perekonomian warga di sana menjadi terganggu,” jelas dia.
“Sedangkan LPG Indonesia yang di suplay ke Sebatik kerap mengalami kelangkaan. Bahkan kelangkaan itu juga kerap terjadi di daerah-daerah perkotaan,” lanjutnya. (*)

Leave a Comment