BULUNGAN FEATURE

Dalam Kondisi Buta,  Nenek Nurmin Puluhan Tahun Berjuang Merawat Anaknya yang Lumpuh

KISAH SEDIH: Nenek Nurmin merawat dengan tekun terhadap Nurhayati yang hanya bisa duduk dan berdiri di tempat tidurnya.

 

KISAH SEDIH: Nenek Nurmin merawat dengan tekun terhadap Nurhayati yang hanya bisa duduk dan berdiri di tempat tidurnya.

KISAH SEDIH: Nenek Nurmin merawat dengan tekun terhadap Nurhayati yang hanya bisa duduk dan berdiri di tempat tidurnya.

KISAH menyayat hati ini bukan dalam sebuah sinetron. Ini dalam kehidupan nyata, dan terjadi di Bulungan, Kalimantan Utara. Cerita menyedihkan datang dari Desa Gunung Sari Kilometer (KM) 12 RT 17 RW 1 Blok A, Kecamatan Tanjung Selor. Mengalami kebutaan sejak puluhan tahun lalu, Nurmin, nenek 60 tahun tak hanya berjuang mempertahankan hidup dengan tidak melihat. Dia juga harus menghidupi putrinya yang mengalami kelumpuhan sejak 27 tahun lalu.

Hidup di bawah garis kemiskinan, ditambah dengan keterbatasan fisik tak membuat Nenek Nurmin mudah menyerah. Dengan gigih dan penuh kesabaran, dia merawat Nurhayati (30) putrinya, yang mengalami kelumpuhan sejak usia 3 tahun.

Usianya sudah 30 tahun lalu, namun Nurhayati tidak seperti wanita sebayanya. Puluhan tahun dia hanya bisa baring dan duduk. Sebuah botol bekas, menjadi ‘teman’ bermain sehari-hari. Sesekali sang ibu yang juga tak kuat, menyeretnya keluar untuk mendapatkan hangatnya sinar matahari.

Kedua wanita tangguh itu, tinggal di sebuah rumah kayu sederhana yang berada cukup jauh dari pemukiman warga. Tak ada alat eletronik, apalagi barang mewah di rumah itu. Hanya tikar lusuh dan beberapa helai pakaian milik keduanya.

Mulai dari memandikan, memasak hingga mencari air dikerjakan nenek Nurmin dengan penuh ikhlas dan sabar. Sakit pada bagian mata yang terasa panas hingga ke kepala, seakan tak dirasanya. Nenek yang kulitnya mulai keriput itu, tetap berusaha tegar dan berjuang untuk merawat anak perempuan satu-satunya yang berbaring lemah.

“Kalau saya ada rezeki dari orang yang datang, saya belikan pampers. Karena kalau tidak begitu, basah kotor kena air kencingnya. Untuk membersihkan saya susah cari air. Jauh harus turun ke sumur, sungai juga jauh,” ujarnya sedih. Tak sadar air mata menetes di pipi nenek Nurmin.

Dia menceritakan, kebutaan yang dialaminya, bermula akibat tertusuk daun padi yang tajam beberapa tahun lalu. Dirinya sempat berobat hingga ke Kota Tarakan, tetapi tidak membuahkan hasil. Bahkan nenek Nurmin juga harus merelakan rumahnya untuk dijual sebagai mengobati matanya. “Mata saya ini pernah dioperasi, tapi gagal. Suami saya sudah setahun yang lalu meninggal. Sementara tiga anakku yang lain juga jarang datang untuk melihat kondisi kami,” ungkap Nenek Nurmin.

Nurhayati anaknya, yang kini lumpuh, diceritakannya, awalnya lahir secara normal. Dia seperti balita lain, lucu dan menambah kegembriaan keluarga. Memasuki usia yang ketiga tahun, tepatnya sekitar tahun 1992 adalah awal mula petaka Nurhayati.  Pada saat sedang asyik bermain, ia tiba-tiba jatuh dari tangga dan pingsan. Sulitnya akses ke kota, membuat balita perempuan malang itu terlambat dibawa ke rumah sakit untuk mendapat pengobatan. Nurhayati kecil, hanya diobati dengan seadanya. Hingga akhirnya mengalami kelumpuhan.  

Tak hanya lumpuh, Nurhayati ternyata juga mengidap penyakit yang sewaktu-waktu bisa kambuh. Dia bisa tiba-tiba seperti mengalami kejang, biasanya pada tengah malam. Dirinya selalu memberikan obat penahan sakit yang diberikan dari salah satu bidan yang ada di desanya. Tetapi kalau obat habis, Nurmin terpaksa menyumpalkan sebuah kain ke dalam mulut Nurhayati agar lidah tidak terluka.

Dalam seminggu kejang-kejang Nurhayati bisa tiga kali kambuh, dan jika sudah kambuh tengah malam hanya dirinya yang menjaga Nurhayati. Sebab nyaris tidak ada tetangga yang datang. Adapun anak pertama, kedua dan keempatnya tinggal jauh dari dirinya yang masih-masing semua sudah berkeluarga dan juga memiliki ekomoni yang sama.

Nenek Nurmin mengaku, memang sempat mendapatkan bantuan dari pemerintah. Yaitu bedah rumah. Tak ada bantuan lain, termasuk Kartu Indonesia Sehat (KIS), yang sampai sekrang belum dimilikinya.

Sudah beberapa bulan lamanya mengumpulkan berkas seperti KTP, kartu keluarga dan lain-lain kepada tetangga yang dipercayainya. Namun hingga kini BPJS tersebut belum jadi. Selain itu juga saat ditanyai apa harapanya untuk pemerintah dirinya bingung untuk menjawab. Tak ada yang banyak diharap, kecuali keinginan anaknya tetap sehat dan bisa makan untuk sehari-hari. (azza)

Leave a Comment